Milky Gel : Mengapa Lahan Gambut Kalimantan Wajib Kita Jaga
Bagi warga Kalimantan, gambut bukan sekadar pelajaran geografi. Milky Gel, Susu Jelly buatan UMKM Palangka Raya, tumbuh di pulau yang sebagian tanahnya berupa gambut. Gambut yang sehat menjaga air dan karbon. Sebaliknya, gambut yang kering dan terbakar mendatangkan kabut asap.
Artikel ini menjelaskan apa itu lahan gambut, mengapa Kalimantan Tengah menjadi sorotan, dan apa yang dapat kita lakukan untuk menjaganya.
Apa Itu Lahan Gambut dan Mengapa Penting?
Lahan gambut terbentuk dari timbunan sisa tumbuhan yang membusuk sangat lambat dalam kondisi tergenang air. Karena itu, gambut bekerja seperti spons raksasa: ia menahan air dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Indonesia termasuk pemilik lahan gambut tropis terluas di dunia. Luas totalnya berbeda-beda antara sumber, mulai dari belasan hingga lebih dari 20 juta hektare, tergantung metode pemetaan. Sebuah kajian BPK Perwakilan Kalimantan Tengah memperkirakan gambut Indonesia menyimpan sekitar 46 gigaton karbon.
Selama tetap basah, karbon tersebut tersimpan aman. Namun, ketika mengering dan terbakar, karbon terlepas ke atmosfer dan asap menyebar ke permukiman.
Lahan Gambut di Kalimantan Tengah
Menurut kajian pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, kawasan bergambut diperkirakan mencakup sekitar 22 persen wilayah Kalimantan Tengah. Provinsi ini memiliki 35 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), yaitu satuan ekosistem gambut yang berada di antara dua sungai atau antara sungai dan laut.
Sejarah ikut menjelaskan kondisi sekarang. Pemerintah memulai Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah pada 1995 dan menghentikannya pada 1999. Menurut peneliti Universitas Lambung Mangkurat, pembukaan kawasan tersebut memicu kebakaran yang berulang hampir setiap tahun, dengan yang terbesar terjadi pada 2015.
Dengan kata lain, kebakaran bukan hanya soal cuaca kering. Pengeringan melalui kanal membuat gambut mudah tersulut, terutama pada musim kemarau panjang.
Belajar dari Kebakaran Hebat 2015
Menurut catatan KLHK yang dirangkum Tirto, sekitar 2,61 juta hektare hutan dan lahan terbakar sepanjang 2015. Sekitar sepertiganya, yakni 869.754 hektare, berada di lahan gambut. BNPB mencatat 24 korban jiwa, sedangkan Bank Dunia menaksir kerugian dan kerusakan mencapai 16,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp221 triliun.
Kabut asap juga memicu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Tengah sepanjang Juni hingga November 2015. Dengan kata lain, dampaknya langsung terasa di kehidupan warga, bukan hanya di hutan.
Sesudah kejadian itu, pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016. Menurut data Greenpeace Indonesia, luas hutan dan lahan yang terbakar turun menjadi 436.500 hektare pada 2016 dan 164.100 hektare pada 2017. Namun, angkanya naik lagi menjadi 528.000 hektare pada 2018 dan sekitar 1,59 juta hektare pada 2019 menurut pemberitaan Kontan. Pelajarannya jelas: pencegahan harus berlangsung setiap tahun.
Kunci Pemulihan Lahan Gambut: Menjaganya Tetap Basah
Prinsip pemulihannya sederhana, yaitu mengembalikan air ke lahan gambut. Salah satu cara yang diteliti di bekas PLG Sejuta Hektare adalah membangun sekat kanal agar air tidak mengalir keluar dan gambut tetap lembap. Gambut yang basah jauh lebih sulit terbakar.
Selain itu, pembukaan lahan tanpa membakar menjadi alternatif penting. Menurut laporan Tempo, pejabat Badan Restorasi Gambut pernah menyebut penggunaan mikroba sebagai salah satu cara membuka lahan tanpa api.
5 Langkah Warga Menjaga Lahan Gambut
● Jangan membakar lahan, semak, ataupun sampah di kawasan gambut, sekecil apa pun apinya.
● Laporkan titik api sejak dini kepada RT, RW, BPBD, atau petugas pemadam kebakaran setempat.
● Dukung petani dan komunitas yang membuka serta mengelola lahan tanpa membakar.
● Jangan membuang puntung rokok sembarangan di lahan kering dan semak belukar.
● Sebarkan informasi tentang pentingnya menjaga gambut tetap basah kepada keluarga dan tetangga.
Peran Generasi Muda dan UMKM dalam Menjaga Lingkungan
Generasi muda memegang peran besar karena mereka aktif di media sosial dan mudah menggerakkan teman sebaya. Satu unggahan yang berisi fakta benar tentang bahaya membakar lahan dapat menjangkau ratusan orang dalam sehari.
Pelaku UMKM seperti Milky Gel pun dapat ikut berkontribusi. Misalnya, dengan mengedukasi pelanggan, memilah limbah usaha, dan memilih bahan serta kemasan yang lebih ramah lingkungan secara bertahap. Langkah kecil yang konsisten lebih berarti daripada gerakan besar yang berhenti di tengah jalan.
Milky Gel dan Kepedulian pada Tanah Kalimantan
Milky Gel lahir dari Palangka Raya, kota yang berada di tengah lanskap gambut Kalimantan Tengah. Karena itu, menjaga gambut berarti menjaga udara bersih dan kenyamanan hidup di tempat produk ini diproduksi dan dinikmati.
Mendukung UMKM lokal seperti Milky Gel juga selaras dengan semangat tersebut. Ketika masyarakat memiliki sumber penghasilan yang stabil dari usaha lokal, tekanan untuk membuka lahan dengan cara yang merusak dapat berkurang. Pemilahan sampah di rumah pun ikut membantu, sebagaimana kami bahas di Milky Gel : 5 Cara Mudah Memilah Sampah Kemasan Minuman.
Kesimpulan
Lahan gambut Kalimantan adalah penyimpan karbon sekaligus pengatur air. Kebakaran 2015 menunjukkan betapa mahal harga yang harus dibayar ketika gambut dibiarkan kering dan terbakar. Sebaliknya, gambut yang tetap basah melindungi kesehatan, ekonomi, dan iklim.
Setiap warga dapat ikut berperan, mulai dari tidak membakar hingga melaporkan titik api. Seperti Milky Gel yang menghadirkan Susu Jelly lezat dari tangan UMKM Palangka Raya, kepedulian pada lahan gambut juga dimulai dari langkah kecil di sekitar kita. Jadi, ketika Anda menikmati Milky Gel berikutnya, ingatlah bahwa udara bersih Kalimantan adalah milik bersama.
Referensi
1. “Menolak Lupa Karhutla Hebat 2015” https://tirto.id/menolak-lupa-karhutla-hebat-2015-f6AE
2. “Sejumlah Lahan Milik Perusahaan Kelapa Sawit dan Bubur Kertas yang Terbakar Luas Belum Mendapat Hukuman” https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/3787/sejumlah-lahan-milik-perusahaan-kelapa-sawit-dan-bubur-kertas-yang-terbakar-luas-belum-mendapat-hukuman-saat-karhutla-kembali-membara/
3. “Restorasi Gambut dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan” https://kalteng.bpk.go.id/wp-content/uploads/2025/03/01.-TH-BPK-Kalteng-Restorasi-Gambut-dalam-Pengendalian-Kebakaran-Hutan_Upload.pdf
4. “Sosialisasi Pencegahan Kebakaran di Lahan Gambut” https://journal.umpr.ac.id/index.php/pengabdianmu/article/download/382/364/1442
5. “Karakteristik Gambut Terdegradasi dan Upaya Restorasi (Sekat Kanal, PLG Sejuta Hektar)” https://repo-dosen.ulm.ac.id//handle/123456789/10868
6. “Restorasi Ekosistem Gambut di Provinsi Papua” https://jurnalteknik.unkris.ac.id/index.php/plano/article/download/487/393/1699
7. “Bahas Kerugian Kebakaran Hutan dan Lahan, Jokowi Jadikan Australia sebagai Contoh” https://nasional.kontan.co.id/news/bahas-kerugian-kebakaran-hutan-dan-lahan-jokowi-jadikan-australia-sebagai-contoh
8. “Loss Caused by Wildfire Reaches Hundreds of Trillions: BRG” https://en.tempo.co/amp/1235604/loss-caused-by-wildfire-reaches-hundreds-of-trillions-brg
9. Website resmi Milky Gel https://milkygel.com/
