Milky Gel: Belajar dari Karhutla Indonesia agar Asap Tidak Terulang
Setiap musim kemarau, langit di sebagian Sumatra dan Kalimantan bisa berubah kelabu. Penyebabnya adalah kebakaran hutan dan lahan, yang biasa disingkat karhutla. Lewat artikel ini, Milky Gel mengajak Anda membaca data karhutla secara jernih, memahami dampaknya, dan mengetahui langkah sederhana yang bisa dilakukan keluarga di rumah.
Milky Gel adalah Susu Jelly produk UMKM Palangka Raya. Kota kami termasuk wilayah yang pernah merasakan pekatnya kabut asap pada 2015, sehingga isu ini terasa sangat dekat.
Apa Itu Karhutla dan Mengapa Berbahaya?
Karhutla adalah kebakaran yang terjadi di kawasan hutan maupun lahan di luar hutan, seperti kebun dan semak belukar. Pada lahan gambut, api dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan, sehingga asapnya bisa bertahan berminggu-minggu.
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5. Menurut Kementerian Kesehatan, partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer ini dapat terhirup hingga ke bagian terdalam paru-paru dan meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Data Luas Karhutla Indonesia 2015–2021
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dilaporkan Antara memperlihatkan naik-turunnya luas area terbakar dari tahun ke tahun, sebagai berikut :
- Tahun 2015 dengan luas karhutla ± 2,6 juta hektar, terparah dalam dua dekade, tersebar di 31 provinsi.
- Tahun 2016 dengan luas karhutla 438.363 hektar.
- Tahun 2017 dengan luas karhutla 165.484 hektar.
- Tahun 2018 dengan luas karhutla 510.564 hektar, dikaitkan KLHK dengan kemarau panjang.
- Tahun 2019 dengan luas karhutla 1.649.258 hektar.
- Tahun 2020 dengan luas karhutla 296.942 hektar.
- Tahun 2021 dengan luas karhutla 358.864 hektar.
Setelah 2015, luas area terbakar memang menurun. Namun, angka kembali naik pada 2018 dan melonjak lebih tinggi lagi pada 2019. Pelajarannya jelas: keberhasilan satu tahun tidak menjamin tahun berikutnya aman.
Untuk 2023, KLHK menyebut luas indikatif karhutla sebesar 1,16 juta hektare, sedangkan analisis Greenpeace Indonesia memperkirakan setidaknya 2,13 juta hektare. Perbedaan metode pemantauan ini menjadi alasan mengapa kita perlu membandingkan lebih dari satu sumber data.
Situasi Terbaru: Kemenkes Imbau Warga Pantau Kualitas Udara
Isu ini bukan sekadar catatan lama. Pada 21 Agustus 2026, Kemenkes melaporkan karhutla telah menyebar hingga 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi, termasuk Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sekitar 3 juta jiwa di 37 kabupaten/kota disebut terpapar langsung kabut asap.
Langkah Aman Saat Kabut Asap Muncul
Berikut langkah umum yang sejalan dengan himbauan Kemenkes:
● Pantau indeks kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah.
● Batasi aktivitas luar ruangan saat udara memburuk, terutama bagi anak, ibu hamil, lansia, dan penderita asma.
● Gunakan masker penyaring partikel halus, seperti KN95 atau KF94, jika terpaksa keluar rumah.
● Tutup ventilasi saat polusi tinggi dan gunakan penjernih udara di dalam ruangan bila tersedia.
● Segera ke puskesmas atau rumah sakit bila muncul sesak napas, batuk menetap, atau nyeri dada.
Kemenkes juga mengingatkan bahwa masker N95 tidak dianjurkan bagi anak-anak dan ibu hamil, serta harus dipakai dengan benar agar efektif.
Milky Gel, Teman Praktis Saat Beraktivitas di Dalam Rumah
Ketika udara di luar tidak bersahabat, banyak keluarga memilih berdiam di rumah. Di momen seperti ini, Milky Gel bisa menjadi camilan minum yang praktis. Perpaduan susu dan jelly dalam kemasan 245 ml memberi rasa kenyang yang pas, sehingga cocok sebagai minuman pengganjal lapar saat bekerja atau belajar dari rumah.
Perlu dicatat, Milky Gel adalah minuman kekinian untuk dinikmati, bukan obat atau pelindung dari asap. Perlindungan utama tetap berasal dari pengurangan paparan dan penggunaan masker yang tepat.
Sebagai produk UMKM Palangka Raya, kami percaya menjaga lingkungan sejalan dengan menjaga usaha lokal. Udara bersih membuat warga bisa beraktivitas, berjualan, dan berkarya dengan tenang.
Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mencegah Karhutla?
● Tidak membuka lahan dengan cara membakar.
● Melaporkan titik api kepada aparat desa, Manggala Agni, atau BPBD setempat.
● Memantau sebaran titik panas melalui SiPongi milik KLHK.
● Mendukung restorasi gambut dan edukasi pencegahan api di desa.
Tanya Jawab Seputar Karhutla
Berikut jawaban singkat atas pertanyaan yang sering muncul dari pembaca Milky Gel.
Apa bedanya titik panas dan titik api?
Titik panas (hotspot) adalah indikasi suhu permukaan yang tinggi yang terdeteksi satelit. Titik panas tidak selalu berarti ada api, sehingga perlu diverifikasi di lapangan. Menurut data KLHK yang dikutip Antara, jumlah titik panas pada 2015 tercatat 70.971, lalu 9.245 pada 2018 dan 29.341 pada 2019.
Mengapa angka karhutla berbeda di berbagai pemberitaan?
Metode dan cakupan data tidak selalu sama. Angka 2015, misalnya, muncul sebagai 2,6 juta hektare dalam rekap KLHK, sedangkan CNN Indonesia pernah mengutip angka 261.060 hektare dari data SiPongi. Karena itu, saat mengutip data karhutla, selalu sebutkan sumber dan tahunnya.
Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?
Kemenkes mengimbau warga segera mencari pertolongan medis bila mengalami sesak napas, batuk yang menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat. Informasi lebih lanjut tersedia melalui Halo Kemenkes di nomor 1500-567.
Kesimpulan
Karhutla bukan bencana yang datang tanpa sebab. Data 2015 hingga 2021 menunjukkan luas kebakaran bisa ditekan, tetapi risikonya tetap ada setiap kemarau. Dengan memahami data, menjaga diri, dan ikut mencegah api, kita turut menjaga langit tetap biru.
Milky Gel berharap kisah kecil dari Palangka Raya ini membuat Anda lebih siaga, dan siap menemani hari-hari Anda dengan segelas Susu Jelly yang menyegarkan.
Referensi
- “Menkes: Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara untuk Cegah Dampak Asap Karhutla”. https://kemkes.go.id/id/menkes-pakai-masker-dan-pantau-kualitas-udara-untuk-cegah-dampak-asap-karhutla
- “Penggunaan Masker pada Asap Kebakaran Hutan”. https://www.kemkes.go.id/id/penggunaan-masker-pada-asap-kebakaran-hutan
- “KLHK: Jumlah Titik Panas dan Luas Karhutla Terus Menurun”. https://jambi.antaranews.com/berita/526801/klhk-jumlah-titik-panas-dan-luas-karhutla-terus-menurun
- “Menolak Lupa Karhutla Hebat 2015”. https://tirto.id/menolak-lupa-karhutla-hebat-2015-f6AE
- “KLHK Tanggapi Debat Capres Jokowi: Masih Ada Kebakaran Hutan”. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190218091333-32-370240/klhk-tanggapi-debat-capres-jokowi-masih-ada-kebakaran-hutan
- “Karhutla Kronis: Bagai Api dalam Sekam”. https://www.greenpeace.org/indonesia/laporan/59567/karhutla-kronis/
- “Masker yang Bikin Ibu Menkes Sakit Hati”. https://news.republika.co.id/berita/nw9a7n334/masker-yang-bikin-ibu-menkes-sakit-hati
- Website resmi Milky Gel https://milkygel.com/
